Friday, 4 January 2019

Pergantian Tahun

Catatan kecil.
APA makna pergantian tahun? Seorang teman mengaku sekedar jalan-jalan dan makan makan. Ada yang merasa khawatir, karena belum jelas apa dikerjakan di tahun depan. Ada pula yang berdiam di rumah sambil melakukan perenungan diri.Peringatan tahun baru, seperti Tahun Masehi, menurut riwayat, pertama kali dirayakan pada tanggal 1 Januari 45 SM tidak lama setelah Julius Caesar dinobatkan sebagai Kaisar Roma. Waktu itu di negara tersebut penanggalan yang dipakai ialah penanggalan tradisional Romawi yang telah diciptakan sejak abad ketujuh SM. Maka Caesar memutuskan menggantikannya dengan tahun Masehi, yang diambil tahun lahirnya Nabi Isa Al Masih.Kalender itu pun dibuat sedemikian rupa-seperti yang kita kenal sekarang. Dia dibantu oleh Sosigenes, seorang ahli astronomi dari Iskandariyah, Mesir. Pedoman penanggalan baru itu disusun dengan mengikuti revolusi matahari, sebagaimana yang dilakukan orang-orang Mesir. Satu tahun dalam penanggalan baru itu dihitung sebanyak 365 seperempat hari dan Caesar menambahkan 67 hari pada tahun 45 SM sehingga tahun 46 SM dimulai pada 1 Januari. Caesar juga memerintahkan agar setiap empat tahun, satu hari ditambahkan kepada bulan Februari, yang secara teoritis bisa menghindari penyimpangan dalam kalender baru ini, sehingga secara periodik bulan Februari memiliki 29 hari, bukan 28 hari.Dalam penyusunannya terjadi beberapa perubahan, terutama menyangkut nama bulan, sebagaimana yang kita kenal sekarang. Misalnya, menjelang Caesar terbunuh di tahun 44 M, dia mengubah nama bulan Quintilis dengan namanya, yaitu Julius atau Juli. Kemudian, nama bulan Sextilis diganti dengan nama pengganti Julius Caesar, Kaisar Augustus, menjadi bulan Agustus.Di dunia ini berbagai perayaan tahun baru berlangsung. Orang Yahudi memiliki tradisi Rosh Hasanah yang jatuh sebelum tanggal 5 September pada kalender Gregorian. Tahun baru Tiongkok atau Imlek jatuh malam bulan baru pada musim dingin, antara akhir Januari hingga awal Februari, kemudian tahun baru Thailand dirayakan mulai tanggal 13 April hingga 15 April dengan upacara penyiraman air.Di kalangan rakyat Vietnam ada yang disebut dengan Tet Nguyên Dán, yang dirayakan pada hari yang sama dengan Imlek masyarakat Cina. Bagi orang Islam perayaan tahun baru 1 Muharram bukan hanya sarat dengan makna hijrah dan berbagai tafsir filosofisnya. Tetapi juga penuh muatan lokal. Nilai-nilai Islam dibaurkann dengan tradisi setempat tanpa membentur unsur-unsur ketauhidan.Tradisi menyambut tahun baru kini telah menembus sampai ke desa-desa akibat peran yang dimainkan media massa terutama televisi. Tahun lalu, suara terompet melintas batas-batas demografis dan sosiologis. Cahaya bunga api menyinari pematang sawah dan tebat ikan. Suara mercon tidak hanya di seputar jalan-jalan Ibu Kota dan kota besar.Kaum moralis dan agamawan mengkritik penyambutan tahun Masehi karena kebarat-baratan, dan bukan “adat istiadat” kita, sebab Islam punya tahun Hijriah. Khususnya di Aceh, pemerintah melarang keras adanya perayaan. Bahkan mengerahkan ratusan polisi syariat, untuk mencegah adanya perayaan pergantian tahun masehi itu. Meskipun di beberapa kawasan, mencoba menyiasati perayaan tahun baru masehi dengan melakukan zikir. Mungkin, ini solusi agar warga tidak melakukan aksi hura-hura.Setiap pergantian tahun baru selala ada pro, ada kontra, ada yang diam saja. Yang pasti “Old and New” seolah menjadi bagian dari budaya dunia. Di sinilah sejatinya setiap orang menyadai bahwa kehidupan ini tidak bisa dibatasi dengan dogma-dogma lama, tanpa ada argumen dan logika sehat. sebagai orang muslim, adanya imbauan bahwa kita hanya memperingati tahun baru hijriah-1 Muharram-sebagai tahun penanggalan Islam yang dihitung dari perpindahan (hijrah) Muhammad dari Mekkah ke Madinah, memang sebuah peristiwa sejarah sekaligus peristiwa religi.Pertanyaan saya, apakah kita bisa menutup langit, merantai setiap kaki manusia agar tidak bisa merayakan tahun baru masehi? Baru bisa mengabaikan tahun Masehi dan perayaannya, jika kita sudah tidak terikat dengan dunia luar; titak menggunakan bank dengan jadwal dan sistem kerja penanggalan Masehi. Sesungguhnya, Islam sebagai agama yang rahmatal lil alamin, tetap menghormati nilai-nilai universal dan pluralistik tanpa mengorbankan nilai-nilai hakiki ketauhidan. Maka hanya dengan pemahaman ketauhidan yang kokoh, tidak perlu harus menurunkan satpol pp atau menutup jalan agar orang Islam tidak ikut-ikutan merayakan tradisi tahun masehi itu.(wallahu)

Friday, 28 December 2018

BERAGAMA HARUS MELAMPAUI SIMBOL-SIMBOL

BERAGAMA HARUS MELAMPAUI SIMBOL-SIMBOL

Alam semesta dan diri manusia merupakan "ayat" (tanda-tanda) adanya Allah. Tanda-tanda hanyalah simbol, bahwa ada sesuatu yang maujud dibalik itu. Namun sayangnya, banyak yang beragama lalu terhenti pada sekedar membaca tanda-tanda.

Persis seperti saat kita melakukan perjalanan dari kampung ke kota. Di pinggir jalan banyak sekali tanda-tanda yang memberitahukan kita bahwa ada kota di depan sana. Bodohnya kita, kita menjadi sibuk. Pandangan kita dibuat terpesona dan tidak mau pindah-pindah dari semua tanda-tanda itu. Sehingga kita tidak pernah sampai kepada Kebenaran (Hakikat/Haqq).

Friday, 30 November 2018

Shalat dari orang-orang yang merendah diri (tadarruk)

Sesungguhnya Aku hanya menerima shalat dari orang-orang yang merendah diri (tadarruk) karena keagungan-Ku dan tiada menyombongkan dirinya di atas makhluk-Ku, tiada terus menerus bermaksiat kepada-Ku, menghabiskan masa harinya berdzikir kepada-Ku, berbalas kasih kepada orang miskin, orang musafir-ibnu sabil, perempuan janda dan orang yang terkena musibah. Ia memancarkan cahaya laksana matahari. Aku lindungi ia dengan Kebesaran-Ku dan memerintahkan malaikat-Ku menjaganya. Aku berinya cahaya dalam menerangi hidupnya. Ia diantara makhluk-makhluk-Ku laksana “Firdaus” gemerlapan di antara barisan surga-surga-Ku. (HR. Bazzar dari Ibnu Umar RA).

Thursday, 29 November 2018

Pasword. "2,4,4,3,4"

Kalau anda ingin melindungi ponsel atau benda penting lain pasti menggunakan Password teraman, jika anda memiliki ponsel yang ada fasilitas deteksi wajah, anda akan menggunakan wajah anda sendiri untuk melindungi data-data penting disitu, tidak mungkin anda menggunakan wajah orang lain. Analogi ini bisa kita gunakan untuk memahami bagaimana Allah SWT melindungi surga-Nya, sudah pasti Dia akan menggunakan sesuatu yang canggih yang tidak mungkin di tiru oleh para penyusup (setan) dan password terbaik dan Maha Canggih itu adalah wajah-Nya sendiri karena hanya wajah Dia yang Abadi  sebagaimana Firman-Nya : “Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali wajah Allah” (QS. Al-Qashash : 88)

Monday, 26 November 2018

Setelah Shalat Subuh

Perlu di kaji secara mendalam oleh segenap umat Islam di seluruh dunia kenapa Nabi menyebut perjuangan melawan hawa nafsu sebagai Jihad Akbar atau perang besar. Perang yang lebih berbahaya dan lebih besar dari perang manapun di dunia. Bukankah perang-perang fisik yang pernah dilalui Nabi sedemikian beratnya sampai pernah gigi Nabi patah di dalam perang tersebut. Tidak kurang ribuan nyawa melawang termasuk orang-orang yang sangat dekat dengan Nabi.

Tubuh manusia yang tampak sebenarnya tersusun oleh sel-sel yang halus dan tidak tampak dilihat dari luar. Sel halus tersebut terdapat inti sel, lebih kecil lagi ada molekul kemudian atom. Dulu kita meyakini partikel terkecil di alam ini adalah atom. Sesudah diteliti lebih dalam, ternyata inti atom masih bisa dibagi menjadi lebih kecil: proton dan neutron. Ternyata proton dan neutron dibentuk oleh zarah-zarah yang lebih kecil, disebut kuark-kuark.

Orang Bodoh

Melanjutkan apa yang sudah kami tulis di Facebook kemarin tentang orang bodoh dan memang sangat menarik untuk dibahas. Pada dasarnya manusia ingin pandai, pintar dan cerdik dan lebih khusus lagi mereka ingin menampilkan kecerdasannya kepada orang lain. Begitulah sifat dasar manusia yang sulit untuk di ubah.

Ada sebuah hadis yang dikutip berkali-kali oleh al-Ghazali, yang bunyinya adalah: “Aktsar ahli al-jannati al-bulhu”, sebagian besar orang-orang yang akan masuk surga nanti adalah “al-bulhu”. Kata “al-bulhu” adalah bentuk jamak dari “ablah” yang maknanya, menurut kamus Munjid: orang yang lemah akalnya (dla’ufa ‘aqluhu wa ‘ajaza ra’yuhu). Makna hadis yang dikutip al-Ghazali di atas itu kira-kira adalah begini: Mayoritas orang-orang yang ada di surga nanti adalah orang-orang yang bodoh, yang lemah akalnya.

Sementara di tempat lain ada pula ungkapan Nabi agar kita berfikir dan menggunakan akal tidak kurang Allah di dalam al-Qur’an menyebutkan kata “Apakah kamu tidak menggunakan akal?” atau “Apakah kamu tidak berfikir” secara berulang ulang di berbagai ayat dan surat. Lalu bagaimana menjelaskan orang-orang bodoh sebagai mayoritas penghuni surga tersebut?

Saturday, 24 November 2018

MELEMBUTKAN SISI *ANGKUH*



Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami” (QS. Alkahfi: 65).


BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Musa as juga pernah sombong. Suatu ketika ia ditanya oleh kaumnya terkait siapa orang yang paling pandai. Musa menjawab, “Aku” (diriwayatkan oleh Ubay bin K’ab dalam Shahih Bukhari).

Keangkuhan Musa ini mendapat teguran Allah. Sehinga ia disuruh mencari guru lagi agar memiliki sikap tawadhuk. Sampai kemudian ia menemukan Khidir yang mengajarinya metodologi ilmu laduni (makrifat).