Friday, 10 July 2015

30 HARI ITU UNTUK MEMBAKAR "SECUIL" DOSA

Adalah Adam as, yang pertama berpuasa 30 hari. Itu ia lakukan untuk menghilangkan "secuil" khuldi yang terlanjur ia konsumsi akibat lupa peringatan Tuhannya. Bayangkan, hanya "secuil" makanan haram yg masuk ke perutnya, tetapi ia harus segera 'membakar'-nya selama 30 hari. Bahkan diriwayatkan, Adam disyari'atkan sekali sahur dan baru boleh berbuka setelah 30 hari lamanya (HR. Imam Hasan bin Ali bin Abi Thalib). Begitulah ketatnya perintah Tuhan untuk mensucikan diri dari "secuil" benda haram agar tidak menjadi darah dagingnya.
Lalu bayangkan kita; berapa ton uang, harta dan makanan haram telah masuk ke perut kita, setiap hari pula. Seumur hidup pun kita berpuasa tentu tak cukup waktu utk 'membakar' habis itu semua. Bukan cuma telah menjadi darah daging, asupan-asupan haram itu sudah menjadi tulang belulang kita. Tubuh kita telah menjelma menjadi struktur dosa. Tidak lagi dengan puasa, tapi hanya api neraka yang mampu menghilangkan semua dosa korupsi kita.

CIRI UTAMA MENDAPATKAN LAILATUL QADAR

Ciri terpenting dari orang yang telah memperoleh Lailatul Qadar adalah "rajin membaca." Bukankah Lailatul Qadar itu malam turunnya perintah "Baca !"? Al-Quran diwahyukan untuk memotivasi kita "membaca", yg dlm berbagai makna dikenal dg: "meneliti", "mengkaji", "menelaah", "menelusuri", "menganalisis", "mengenal", "memahami" dan segala fungsi pendewasaan akal lainnya yang menjadi akar rasional sebuah peradaban. Karena dengan membaca kita terbebas dari alam jahiliah (kebodohan) menuju kepada pengetahuan. Malam Qadar adalah malam ketika Nabi saw ditetapkan utk mulai "membaca" (iqra), lalu ia memperoleh pengetahuan tertinggi tentang Tuhan (bismi rabbik) dan segala ciptaan-Nya (alladzi khalaq). Melihat rendahnya budaya baca bangsa, bisa dipastikan mayoritas kita tak pernah mendapatkan Lailatul Qadar. Semoga pada 10 terakhir Ramadhan tahun ini kita temukan kesadaran "iqra" itu.

Wednesday, 24 June 2015

IKHLAS DAN SABAR

HATI yang tenang adalah hati yang tertata, fikiran yang bisa menempatkan situasi dan kondisi yang sesungguhnya. Karena itu bila sedang melaksanakan shalat, maka hati, pikiran, emosi, gerakan tubuh menyatu dalam zikir kepada Allah, bukan justru sebaliknya tubuhnya sedang melaksanakan shalat namun hatinya entah kemana, pikirannnya memikirkan yang lain, perlu kita sadari bahwa ketika sedang menjalankan shalat terkadang dapat mengingatkan sesuatu hal yang tidak pernah dipikirkan kemudian muncul pemikiran ketika shalat, ketika lupa sesuatu maka ketika shalat sesuatu yang lupa itu menjadi ingat.
Hal ini menandakan hati yang tidak tenang dan pikiran yang tidak konsentrasi. Ingatlah bahwa shalat adalah kunci segala macam amal ibadah manusia, didalam shalat penuh dengan bacaan do’a dan zikir, maka bila shalatnya sudah sempurna akan menuntut perbuatan yang lain juga akan menjadi baik. Shalat akan membentuk karakter manusia, karena dengan shalat yang khusu’, memenuhi syarat dan rukunnya, maka shalat akan dapat mencegah dari perbuatan keji dan munkar. Bahkan pernah diwartakan oleh Rasulullah bahwa ” Shalat adalah tiang agama, barangsiapa yang menegakkan shalat maka dirinya menegakkan agama dan barang siapa yang meninggalka shalat maka dirinya merobohkan agama. (Hadits). Maka sering orang bertanya, mengapa banyak orang yang rajin melaksanakan shalat namun maksiatnya tetap dilakukan.

MACAM-MACAM AZAB DI NERAKA JAHANAM

6. Azab bagi peminum arak
IMAM Ahmad meriwayatkan dari Abu Musa Al-Asy’ari RA, bahwa Nabi SAW bersabda, “Ada tiga macam manusia yang tidak masuk surga, peminum arak, pemutus silaturahmi, dan orang yang percaya sihir. Barangsiapa mati sebagai peminum arak, maka Allah memberinya minum dari sungai Ghuthah. Seseorang bertanya, ‘Apa itu sungai Ghuthah?’ Rasul menjawab, ‘Sungai yang mengalir dari kemaluan para pelacur. Para penghuni neraka lain merasa terganggun oleh bau kemaluan mereka’,” (HR. Ahmad).

HIKMAH BERPUASA RAMADHAN

Puasa adalah salah satu amalan wajib yang diperintahkan Allah kepada hambanya. Kewajiban puasa tercantum pula dalam rukun Islam yang ke empat. Maka, sudah menjadi kewajiban yang mutlak untuk menjalankannya. Perintah puasa tidak menjadi hal baru untuk umat muslim. Allah SWT memerintahkan pula kepada umat-umat terdahulu sebelum kita.
Keterangan ini terukir jelas dalam Al-qur’an berbunyi ; “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kamu bertakwa” (QS. Al Baqarah: 183).

RAMADHAN BULAN PERTAUBATAN

PERTAMA – tama kita harus bersyukur bisa dipertemukan kembali dengan bulan suci ramadhan, artinya bahwa Allah sedang memberikan kesempatan kepada kita untuk memperbaiki diri, untuk mensucikan hati kita dari segala dosa. Karena Ramadhan merupakan sahrul magfirah, bulan yang penuh dengan pengampunan, sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadis:
“Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah maka dosanya di masa lalu akan diampuni,” (HR. Bukhari No. 38 dan Muslim no. 760).
Jika 11 bulan yang lalu kita masih sering melakukan dosa, seperti judi togel, melakukan riba,  berbohong kepada orang tua, kemudian kalau dikalangan pegawai mungkin ada yang masih melakukan/menerima Gratifikasi (Penyuapan) demi memuluskan tujuanya. Maka sekaranglah saatnya untuk melakukan suatu pertaubatan.
Rasullulah SAW bersabda “Setiap anak adam pernah melakukan dosa dan sebaik-baiknya pendosa adalah mereka melakukan taubat.”

“From Pacaran To Taaruf” (1)

 SEIRING dengan semakin dikenalnya istilah taaruf, banyak muslimah yang mendapatkan hidayah sehingga berani memutuskan pacarnya dan memilih jalan taaruf. Meskipun demikian, ada juga yang masih menjalani aktivitas pacaran karena sudah “kecantol” dengan yang sosok yang disukainya. Padahal, memutus hubungan pacaran bukan berarti harus taaruf dengan orang yang berbeda. Bisa saja taaruf dijalani dengan mantan pacar tersebut, tentunya dengan metode dan adab yang disesuaikan dengan tuntunan Islam. Berikut ini beberapa langkah yang bisa dijalani untuk beralih dari aktivitas pacaran ke taaruf Islami dengan si mantan pacar, hijrah “From Pacaran To Taaruf”.





Hijrah Niat
Niat menjalani pacaran dan taaruf bisa saja sama-sama untuk menuju pernikahan. Namun niat seperti itu saja belum cukup, niatkanlah untuk ibadah, bukan sekedar niatan untuk menikah. Dengan niatan ibadah, setiap aktivitas yang dijalani harus berlandaskan tuntunan dalam Islam, yang mendekatkan diri ke jalan yang diridhai Allah, bukan yang dimurkai-Nya.


Hijrahkan niat, segeralah bertaubat atas aktivitas pacaran yang telah dijalani, banyak-banyak istighfar, menyesali dan bersungguh-sungguh untuk tidak mengulanginya lagi, selanjutnya beralihlah ke proses taaruf yang Islami. Allah Maha Melihat, malaikat terus mencatat, dan ajal bisa saja mendekat. Kalau si mantan pacar enggan diajak bertaubat, lebih baik mencari sosok lain yang shalih/shalihat.
Hijrah Diri
Ikhtiar menuju pernikahan tak lepas dari persiapan diri baik dari segi ilmu, psikis, fisik, finansial, dan orang tua yang terkondisikan, yaitu sudah memberi restu untuk menikah. Anjuran Islam adalah menikah bagi yang sudah mampu menikah, bagi yang belum mampu menikah dianjurkan untuk berpuasa. Dengan demikian, memantaskan diri dan memampukan diri merupakan sebuah keharusan sebelum berikhtiar menuju pernikahan.


Hijrahkan diri, kemudian taaruflah dengan sosok yang memang sama-sama sudah siap menikah sehingga tidak perlu berlama-lama dalam proses taaruf. Apabila si mantan pacar baru siap menikah setelah tahun ke depan, lebih baik putuskan hubungan dengannya dan beralihlah ke sosok lain yang sudah siap menikahi/siap dinikahi.
BERSAMBUNG